Anambas, PIJARKEPRI.COM – Di tengah tenangnya pesisir Desa Ulu Maras, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, sebuah meriam tua masih berdiri membisu.
Karat telah menyelimuti tubuh besinya, tetapi keberadaannya seolah menjadi penanda bahwa kampung kecil di ujung utara Kepulauan Riau ini pernah menjadi bagian dari sejarah besar pelayaran Nusantara.
Warga meyakini meriam tersebut telah berada di desa itu selama puluhan tahun. Berdasarkan cerita turun-temurun, usianya diperkirakan telah melampaui 90 tahun.
Bagi masyarakat setempat, benda itu bukan sekadar besi tua, melainkan saksi bisu perjalanan panjang Anambas yang sejak berabad-abad silam dikenal sebagai wilayah persinggahan kapal-kapal yang melintasi Laut Cina Selatan.
Tokoh pemuda Desa Ulu Maras, Antoni, mengaku bangga karena desanya masih menyimpan peninggalan sejarah yang hingga kini tetap terawat.
“Saya bangga punya Desa Ulu Maras yang masih menyimpan banyak peninggalan sejarah. Salah satunya meriam ini. Ini bukan sekadar besi tua, tetapi bukti sejarah yang harus kita jaga bersama,” ujar Antoni saat dihubungi melalui telepon seluler, Sabtu (1/8/2026) lalu.
Menurut Antoni, meriam tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah desa tidak boleh dilupakan. Ia berharap pemerintah desa bersama masyarakat dapat menata kawasan itu agar menjadi ruang edukasi sekaligus destinasi wisata sejarah.
“Kalau anak muda peduli, sejarah ini tidak akan hilang. Justru bisa menjadi kebanggaan dan daya tarik bagi orang luar untuk datang mengenal Ulu Maras,” katanya.
Keberadaan meriam tua di Ulu Maras menjadi semakin menarik bila dikaitkan dengan berbagai hasil penelitian arkeologi tentang kawasan Anambas dan Natuna.
Dalam berbagai publikasi National Geographic Indonesia, Kepulauan Anambas dan Natuna disebut sebagai salah satu titik singgah penting di jalur pelayaran kuno Laut Cina Selatan yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tenggara hingga Selat Malaka.
Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, kawasan ini diyakini telah menjadi batu loncatan bagi kapal-kapal dagang maupun armada yang berlayar melintasi perairan tersebut.
Pandangan serupa juga disampaikan para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Mereka menilai posisi geografis Anambas dan Natuna sangat strategis sebagai tempat berlindung dari cuaca buruk sekaligus lokasi mengisi logistik sebelum kapal melanjutkan pelayaran menuju kawasan lain di Asia Tenggara.
Bukti arkeologis semakin menguatkan pentingnya kawasan ini. Penelitian bawah laut menemukan sedikitnya lima situs artefak kapal dari abad ke-10 hingga abad ke-19 Masehi di perairan Natuna.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa wilayah Natuna dan Anambas telah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan internasional selama ratusan tahun, menghubungkan Tiongkok dengan berbagai pelabuhan di Asia Tenggara.
Pada ekspedisi arkeologi bawah laut yang berlangsung selama dua pekan, 14–25 April 2015, tim penyelam dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di tiga lokasi, yakni Pulau Buton, Pulau Laut, dan Karang Antik.
Meski kondisi arus deras menghambat penelitian di Pulau Laut, para peneliti berhasil mendokumentasikan berbagai temuan di Pulau Buton dan Karang Antik yang memperkuat bukti aktivitas pelayaran kuno di kawasan tersebut.
Melihat konteks sejarah itu, keberadaan meriam di Desa Ulu Maras diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas maritim masa lampau yang pernah berlangsung di kawasan Anambas.
Namun hingga kini belum ada penelitian arkeologi yang memastikan asal-usul maupun periode pembuatan meriam tersebut. Karena itu, kajian ilmiah lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkap sejarah sebenarnya.
Selain meriam, masyarakat Ulu Maras juga menyebut masih terdapat sejumlah benda peninggalan lain yang diwariskan secara turun-temurun.
Seluruhnya menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut sejak generasi terdahulu.
Di tengah derasnya arus modernisasi, meriam tua itu mengingatkan bahwa Anambas bukan hanya gugusan pulau terluar Indonesia. Kawasan ini pernah menjadi simpul penting peradaban maritim Asia.
Jika penelitian lebih lanjut mampu mengungkap asal-usulnya, bukan tidak mungkin meriam di Ulu Maras akan menjadi salah satu kepingan sejarah yang melengkapi mozaik besar jalur pelayaran kuno di Laut Cina Selatan.
Warisan seperti inilah yang menjadi alasan mengapa benda-benda bersejarah di desa-desa pesisir tidak boleh dipandang sebagai besi tua semata.
Ia adalah jejak perjalanan peradaban yang telah bertahan melintasi puluhan, bahkan ratusan tahun, menunggu untuk terus diceritakan kepada generasi berikutnya.
Pewarta : Fendi







