TIMUR TENGAH – Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir.
Eskalasi militer yang terus meningkat, gangguan jalur energi global, hingga ancaman krisis nuklir memicu kekhawatiran serius di tingkat internasional.
Dalam perkembangan terbaru, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran menggunakan bom penghancur bunker yang menargetkan fasilitas rudal bawah tanah Iran di sekitar Selat Hormuz.
Serangan ini disebut menyasar instalasi yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional.
Sebelumnya, Washington juga menggempur lebih dari 90 target militer Iran di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak strategis Teheran.
Operasi tersebut menjadi salah satu aksi militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Teluk dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, Iran merespons dengan memperkuat strategi perang asimetris. Teheran meningkatkan penggunaan ranjau laut, drone, serta patroli angkatan laut guna menekan kehadiran militer Barat di kawasan tersebut.
Situasi kian kompleks setelah sejumlah pejabat tinggi keamanan nasional Iran dilaporkan tewas akibat serangan udara.
Kondisi ini dinilai melemahkan struktur komando, namun berpotensi memicu respons militer yang lebih agresif dari pihak Iran.
Selat Hormuz kini menjadi titik panas utama. Jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu sempat ditutup Iran untuk kapal-kapal tertentu.
Dampaknya, lalu lintas pelayaran global mengalami penurunan drastis sejak akhir Februari 2026.
Sejumlah perusahaan pelayaran menghentikan operasinya, sementara kapal-kapal lainnya memilih menunggu di luar kawasan Teluk.
Meski demikian, beberapa kapal yang memiliki hubungan dagang dengan Iran dilaporkan masih dapat melintas secara terbatas.
Gangguan di Selat Hormuz langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak menembus USD 100 per barel, dengan potensi kenaikan lebih lanjut jika konflik terus berlanjut.
Negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, mulai mengantisipasi dampak dengan mencari sumber pasokan alternatif.
Di tengah eskalasi tersebut, ancaman baru muncul dari sektor nuklir. Fasilitas nuklir Bushehr dilaporkan terkena proyektil, meski tidak menyebabkan kerusakan besar.
Insiden ini memicu peringatan dari badan internasional terkait risiko bencana radiasi jika konflik tidak segera mereda.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. Amerika Serikat terus berupaya melemahkan kekuatan militer Iran, sementara Teheran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
Kombinasi perang terbuka, gangguan energi global, dan risiko nuklir menjadikan konflik ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. (ANG/AFP)







