Natuna  

Cuaca Buruk, Telur di Pasar Ranai Natuna Langka

Pedagang toko sembako di Pasar Ranai saat melayan pembeli. (Foto : Muhamad Nurman)
Pedagang toko sembako di Pasar Ranai saat melayan pembeli. (Foto : Muhamad Nurman)

PIJARKEPRI.COM – Persedian komoditi pangan jenis telur ayam di pasar Ranai, Natuna, Kepulauan Riau langka sejak beberapa hari terakhir dikarenakan distribusi kapal logistik ke daerah itu terhambat cuaca buruk.

Hingga Selasa, (27/12/2022) warga kesulitan mendapatkan telur ayam di pengecer, warung hingga toko-toko sembako, di Kecamatan Bunguran Timur, Natuna.

Abu Sofyan, Pedagang toko sembako pasar Ranai, mengatakan persedian telur ayam ditempatnya kosong sejak Senin (26/12/2022)

Distribusi telur di pasar Natuna di datangkan dari Tanjungpinang dan Kalimantan menggunakan transportasi laut. Cuaca buruk dinilai menjadi penyebab terhambatnya distribusi telur di daerah itu.

“Biasanya bulan 12 musim angin, sama ombak tinggi, jadi kapal jarang beroperasi,” kata Abu Sofyan, di Pasar Ranai.

Ia mengatakan, seiring dengan kosongnya persedian telur, harga telur merangkak naik tembus Rp 70.000 per papan dari Rp 50.000 harga normalnya.

“Satu butir tiga ribu. Harga naik dari beberapa hari yang lalu,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Natuna Firdaus, mengatakan Natuna belum mampu swasembada telur dan terpaksa mendatangkan telur ayam dari luar daerah, yakni Kota Tanjungpinang dan Kalimantan Barat.

Firdaus mengungkapkan, cuaca ekstrim berupa angin kencang dan gelombang tinggi mencapai enam meter melanda Natuna menyebabkan kapal logistik tidak bisa beroperasi.

Hal itu dinilai mempengaruhi ketersediaan telur ayam di daerah itu.

“Kapal tidak diberikan izin untuk berlayar, karena gelombang tinggi,” ucapnya, melalui telfon.

Ia mengatakan, pedagang di Natuna juga tidak berani membeli telur dalam jumlah yang banyak, dikarenakan takut rugi, pasalnya gelombang tinggi bisa membuat telur rusak.

Ia menyebut belum tahu pasti kapan telur akan tersedia kembali, di Natuna.

“Mereka (pedagang) juga tak berani membeli dalam jumlah banyak. Soalnya telur rentan rusak,” ujarnya. (MAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *