Politik Kesejahteraan Pedagang Pasar di Indonesia

Zulfata Kepala Lembaga Kajian Strategis APPSI. Email: fatazul@gmail.com
Zulfata Kepala Lembaga Kajian Strategis APPSI. Email: [email protected] Zulfata Kepala Lembaga Kajian Strategis APPSI. Email: [email protected]

Mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui jalan perjuangan politik adalah keniscayaan. Termasuk memahami dunia pedagang pasar untuk terus mengarah dan semakin dekat dengan namanya kesejahteraan. Dengan keberadaan pasar (pasar tradisional) yang jumlahnya tidak sedikit, dengan pelaku usaha yang tidak sekadar berdagang, serta aktivitas pasar tidak hanya melakukan transaksi, jauh dari itu pasar tradisional adalah salah satu ujung tombak dalam mendulang kesejahteraan rakyat Indonesia.

Hadirnya kajian dengan judul politik kesejahteraan pedagang pasar bukanlah berkmaksud untuk mempolitisasi pedagang pasar, bukan mengambil keuntungan elektoral terhadap pelaku pasar, apa lagi memanfaatkan pasar sebagai panggung pencitraan dalam praktik blusukan atau drama operasi pasar. Tetapi kajian ini mengarah pada bagian penguatan kapasitas nalar publik, atau boleh disebut sebagai bentuk pendidikan politik bagi kalangan pedagang pasar bahwa posisi pedagang pasar sungguh strategis dalam agenda percepatan kesejahteraan rakyat.

Maksud kajian ini akan tampak semakin jelas ketika memahami keberadaan, peran, dan historis munculnya pasar tradisional di tanah air dan kaitannya dengan apa yang disebut demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi tidak boleh lepas dari kesadaran publik bahwa apapun tantangannya sangat mempengaruhi indeks kesejahteraan rakyat. Demokrasi ekonomi telah membuka jalan bagi pedagang pasar bahkan seluruh rakyat Indonesia bahwa tidak ada keadilan pasar (pasar sempurna) ketika tidak perjuangkan secara kolektif.

Memisahkan demokrasi ekonomi dengan pasar tradisional adalah suatu yang naïf di negeri ini. Sebab hilir dari praktik demokrasi Indonesia hari ini telah terbukti adanya pertalian dengan pasang surut terkait stabilitas yang terjadi di tubuh pasar tradisional. Sebagai contoh, akibat perang dagang China-Amerika, kemudian berlanjut ke perang Rusia-Ukarina telah mempengaruhi berbagai apsek perekonomian negara, termasuk di dalamnya mempegaruhi pasar tradisional, baik dari aspek perdagangan pedagang, perilaku, hingga pola kelola pedagang pasar tradisional yang terpaksa berdamai dengan kondisi tidak menguntungkan.

Apa yang dikeluhkan atau yang diapresiasi oleh pedagang pasar selama ini adalah akibat dari pelaksanaan demokrasi ekonomi tersebut. Naik turunnya harga bahan pokok, Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, over impor, daya ketersediaan pangan, hingga pada persoalan dapat atau tidaknya pedagang pasar tradisional terhadap bantalasan sosial sebagai penopang daya usaha atau daya beli masyarakat. Semua ini sangat tergantung pada sikap pedagang pasar tradisional ingin berjuang atau memilih pasrah sembari mengutuk kondisi pasar dan perilaku politik elite.

Tentu sikap pasrah dan mengutuk tanpa ujung bukanlah pilihan yang tepat yang akan diambil oleh pedagang pasar tradisional. Kolaborasi, partisipasi, kekompakan dalam menyuarakan nasib dan harapan harus tetap dijalankan melalui wadah yang penuh komitmen dan memiliki rekam jejak yang konsisten terkait jalan perjuangan itu. Prospek penguatan kesadaran demokrasi ekonomi ini yang kemudian mengarah pada menguatnya gerak politik kesejahteraan dari kalangan pedagang pasar, sungguh strategis dengan keberadaan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

Dengan berbagai tantangan dan liku APPSI sejak terbentuk hingga kini, tanpa disadari bahwa APPSI memiliki spirit politik kesejahteraan terhadap pedagang pasar tradisional. Politik kesejahteraan ini bukanlah politik praqmatisme, bukan politik pemburu rente, tetapi politik kesejahteraan ini adalah bagian penguatan pemahaman dan kesadaran terhadap pedagang pasar tradisional untuk mampu menjemput kesejahteraan dari berbagai tantangan politik yang melanda negeri ini.

Sebagai Kepala Lembaga Kajian Strategis APPSI, penulis berusaha untuk menyampaikan ke publik satu dari berbagai program prioritas APPSI. Satu program tersebut adalah untuk memberikan pencerdasan bagi pedagang tradisional untuk tetap solid memperjuangkan hak dan harapan yang tersimpan di benak pedagang pasar tradisional. Sebab tanpa ada ikatan solidaritas, tanpa ada pengembangan cakrawala, tanpa ada jaringan dan instrumen perjuangan dalam menyampaikan harapan, maka harapan tersebut mustahil untuk terwujud di dunia nyata. Pada posisi inilah sejatinya narasi politik kesejahteraan pedagang pasar tradisional tidak boleh berhenti dan mesti terus dilanjutkan secara berkelanjutan.

Dampak kesadaran politik kesejahtaraan pedagang pasar tradisional ini tentunya akan mempengaruhi pedagang pasar tradisional yang akan melek hukum, paham dasar politik peran dan tanggung jawab pemerintah terhadap pedangan pasar tradisional, hingga mendorong rasa tanggung jawab pedagang pasar untuk ikut terlibat dalam menciptakan pemulihan ekonomi nasional, apakah itu memperkuat budaya gotong royong menurunkan inflasi, atau berusaha menyuarakan kebijakan agar terlepas dari praktik oligopoli, monopoli, kartel dan lain sebagai yang mengancaman keberlangsungan tatanan pasar tradisional yang damai, nyaman dan berkeadilan.

Pemahaman politik kesejaheraan bagi pedagang pasar tradisional ini semakin staretgis untuk terus didengungkan bukan karena apologi penulis bagian dari APPSI, tetapi fakta sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa Presiden Joko Widodo mencapai puncak karir dan mendapat amanah untuk sampai menjadi presiden Republik Indonesia tidak lepas dari suksesnya Presiden Joko Widodo dalam merelokasi/merevitalisasi pasar tradisional di Solo kala itu. Suka atau tidak, apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo telah menjadi penggalan sejarah penting dalam catatan peristiwa kepemimpinan nasional hari ini.

Yang ingin digarisbawahi adalah keterlibatan pedagang pasar tradisional terhadap pembentukan atau rekomendasi untuk menguatnya suatu kekuasaan atau kebijakan sangat memiliki hubungan sebab akibat dengan sikap pedagang pasar tradisonal. Atas pemahaman seperti inilah mungkin Ketua Umum APPSI, Sudaryono tampak gigih dalam melaksanakan berbagai program dengan sebutan kunci yaitu Pedagang Merdeka.

Tentunya program ini bukan sekadar slogan yang kosong, melainkan memiliki substansi dan fondasi yang kuat, terarah serta terukur dalam membangun rajutan bersama sama dengan pedagang pasar tradisional dalam mencapai kesejahteraan rakyat, dan tak terlepas dari tujuan stabilitas ekonomi nasional yang disokong oleh pedagang pasar tradisional. Untuk itu, berbanggalah menjadi pedangan pasar yang terus menimba cakrawala politik kesejahteraan demi terciptanya Indonesia, adil, makmur dan sentosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *