Dua Mahapala UMRAH Teliti Pencemaran Sungai Pelunggut

Sungai Pelunggut, Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam, Kepri, Agustus 2022. (Foto: Mahapala UMRAH)
Sungai Pelunggut, Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam, Kepri, Agustus 2022. (Foto: Mahapala UMRAH)

PIJARKEPRI.COM – Dua mahasiswa pencinta alam (Mahapala) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang meneliti persoalan pencemaran di Sungai Pelunggut, Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam, Kepri, belum lama ini, di Agustus 2022.

Ke dua Mahapala UMRAH itu yakni, Fauza Rikzal Ghani dan Oldyn Septiana Sinurat. Mereka meneliti permasalahan lingkungan hidup hingga advokasi persoalan masyarakat kavling Flamboyan.

Dari catatan penelitian kedua mahasiswa tersebut yang diterima pijarkepri.com, Sungai Pelunggut adalah sungai drainase yang dibuat pemerintah untuk mencegah banjir di wilayah Batu Aji, Batam.

Sungai tersebut awalnya adalah sungai kecil di pemukiman Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam.

Akibat permasalahan banjir maka pemerintah setempat melebarkan sungai dan membuat sungai sebagai drainase.

Banyak titik aliran menuju sungai tersebut, terutama wilayah Batu Aji. Pelebaran sungai dan pemasangan beton dibuat untuk penanggulangan banjir.

“Tetapi sampah menjadi permasalahan yang muncul setelahnya. Masyarakat masih sering membuang sampah ke sekitar sungai. Mengakibatkan sampah menumpuk di sungai,” kata Oldyn Septiana Sinurat.

Mahasiswa Pencinta Alam (Mahapala) UMRAH saat mewawancarai warga sekitar Sungai Pelunggut, Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam, Kepri, Agustus 2022. (Foto: Mahapala UMRAH)
Mahasiswa Pencinta Alam (Mahapala) UMRAH saat mewawancarai warga sekitar Sungai Pelunggut, Kavling Flamboyan, Sagulung, Batam, Kepri, Agustus 2022. (Foto: Mahapala UMRAH)

Dalam penilitian keduanya, disebutkan pemerintah berupaya melakukan pendalaman aliran Sungai, seperti pengerukan guna mengambil tumpukan sampah yang menumpuk di sungai.

Namun, usaha itu tak menimbulkan persoalan baru, yakni bau tidak sedap dari sampah di Sungai Pelunggut sangat menyengat dan membuat penduduk setempat resah.

Sampah dinilai menjadi faktor utama dari permasalahan Sungai Pelunggut tersebut. Sampah yang dibuang masyarakat ke sungai mengakibatkan tumpukan sampah di Sungai Pelunggut.

“Bukan hanya masyarakat sekitar tetapi banyak masyarakat dari luar yang membuang sampah ke sungai tersebut,” ungkapnya.

Kedua Mahapala UMRAH ini menemukan, permasalahan sampah menjadi sangat genting, karena keadaan Sungai Pelunggut saat ini menjadi hitam dan kotor.

Sungai Pelunggut bermuara ke laut. Maka pasang surut air laut yang mengalirkan sungai tersebut.

“Jika air pasang maka air naik dan jika surut sungai akan mengering. Dan jika sungai mengering bau air dari sungai meluap ke pemukiman warga sekitar,” kata Fauza Rikzal Ghani.

Ia mengatakan, sampah yang berasal dari masyarakat yang membuang sampah ke parit-parit yang alirannya ketika hujan menuju sungai drainase tersebut menjadi faktor utama penumpukan sampah Sungai Pelunggut.

“Sosial penduduk, wawancara dan sidak lokasi menjadi acuan kami melakukan advokasi. Kondisi sungai yang menjadi hitam dan banyak sampah sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Dalam kesimpulan penelitian mereka, dua Mahapala UMRAH ini berkesimpulan bahwa faktor kesehatan bisa menjadi permasalahan yang akan muncul dari pencemaran Sungai Pelunggut.

Mereka menemukan, tidak sedikit anak-anak yang bermain air disekitar sungai ketika air Sungai Pelunggut naik, meskipun kondisi sungai yang hitam dan kotor, sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan.

Mereka juga menemukan penduduk sekitar Sungai Pelunggut menggunakan sungai tersebut sebagai mata pencaharian. Mereka menemukan beberapa perahu yang diparkirkan dipinggir sungai.

“Karena sungai pelunggut strategis dan bermuara kelaut ada beberapa masyarakat yang mencari ikan disekitar sungai,” kata Oldyn Septiana Sinurat.

Ia mengutarakan sebaliknya, ketika Sungai Pelunggut kering, maka bau tidak sedap akan meluap dari sungai. Masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai menjadi resah. Karena bau yang ditimbulkan masuk kerumah warga.

Mereka menilai, dampak yang diakibatkan oleh sampah yang dibuang masyarakat ke sungai menjadi faktor keresahan masyarakat.

“Oleh karena itu menjaga lingkungan untuk tidak buang sampah ke sungai dan parit aliran drainase harus kita upayakan dengan maksimal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *