Mengenal Lebih Dekat Muhammad Ishak Calon Bupati Lingga

Muhammad Ishak dan keluarganya. (Foto: istimewa)
Muhammad Ishak dan keluarganya. (Foto: istimewa/aci)

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah itu masih terngiang di tengah masyarakat. Itulah yang kami dedah dalam kesempatan ini. Mengenal Muhammad Ishak dari sisi lain.

Di tengah waktu yang singkat, tepatnya pada masa pandemi Covid-19, pijarkepri.com mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Muhammad Ishak, Calon Bupati Lingga bersama Wakilnya, Salmizi.

Mereka menempati nomor urut 1 (satu) pada pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Pilkada serentak, di Lingga 2020.

Saat ini, Ishak dan Salmizi adalah orang yang paling dicari, diburu di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau untuk diwawancarai. Hingga pada akhirnya kami dapat memperkenalkan kepada pembaca siapa Ishak hingga dapat menjelaskan catatan kehidupannya.

Beberapa episode haru semasa kecil ditinggal sang ayah sampai harus mengumpulkan kayu membantu ibu untuk mencukupi ekonomi keluarga, berjibaku meraih pendidikan untuk mengabdi di daerah tercinta, Lingga juga diuraikan dalam wawancara kami bersama Ishak.

Riwayat pendidikan, prestasi, bahkan penghargaan yang Ishak terima dari negara juga kami sebutkan dalam wawancara kami bersamanya. Upaya ini kami sampaikan kepada pembaca agar dapat mengenal dekat siapa Muhammad Ishak sejadi-jadinya.

Mengenal Muhammad Ishak

Nama Ir.H. Muhammad Ishak, MM, begitu gelarnya disebutkan jika kita kaku mengenalnya. Tapi tidak, jika kita tau kalau beliau biasa disapa Pak Ishak.

Ya, Ishak mulai menjadi perbicangan di masyarakat setelah pria kelahiran Daik, Kabupaten Lingga, 24 Desember 1963 ini ikut bertarung pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Lingga di tahun ini, tepatnya 2020.

Ishak menggandeng Salmizi, merupakan salah satu wakil rakyat asal Lingga. Keduanya mengusung moto akan mewujudkan Lingga maju, agamis dan berbudaya. Menurutnya, moto itu dimaknakan bukanlah hanya sekadar untuk ikut-ikutan saja atau sekadar meramaikan Pilkada tahun ini.

Ishak mengaku jiwa dan raganya sebagai putra asli daerah berjuluk Bunda Tanah Melayu terpanggil untuk membangun Lingga meskipun sedari awal pembentukan Kabupaten Lingga dia juga sudah terlibat langsung.

Kala itu, Ishak dipercayakan sebagai Camat Kecamatan Lingga. Maka, menurutnya, ketika Lingga menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, sudah tentu dia sebagai anak daerah ikut terpanggil untuk membangun Lingga dengan sebaik mungkin.

“Selaku putra asli daerah yang lahir di Bunda Tanah Melayu, saya merasa terpanggil secara moral untuk mengabdi di daerah ini. Karena itu saya juga harus ikut bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita luhur perlunya Kabupaten Lingga ini dibentuk,” ungkapnya.

Ishak meyakinkan diri bersama pendukungnya, partai pengusungnya, relawan, simpatisan dan masyarakat Lingga yang akan memilih dia untuk maju pada Pilkada Lingga 2020.

Bagaiman tidak, Ishak meyakinkan itu dengan mengajukan pensiun dini dari status pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Padahal, jika dia mementingkan diri sendiri dan keluarga, golongan jabatannya sebagai ASN sudah lebih dari cukup.

Namun, pilihan untuk mengundurkan dari ASN dan maju di Pilkada Lingga 2020 ini dinilainya adalah keputusan tepat. Sebab, menurut Ishak tanggungjawab untuk membangun tanah kelahirannya, Lingga lebih dari menyoalkan kepentingan pribadi.

“Memang bagi saya perlu pertimbngan yang matang sebelum memutuskan untuk ikut Pilkada. Satu sisi saya harus mengundurkan diri dari ASN alias pensiun dini, sisi lain sebagai tanggungjawab moral saya terhadap daerah ini, daerah tempat saya lahir dan dibesarkan serta adanya harapan masyarakat yang mudah-mudahan ada perubahan yang lebih baik,” pungkasnya.

Ishak Pekerja Keras yang Ingin Membangun Lingga

Kehidupan Ishak kecil tak seperti anak-anak saat ini, semua tersedia, bahkan untuk sekolah saja kala itu Ishak harus berjibaku melawan teriknya matahari untuk menuai ilmu di sekolah.

Ishak merupakan putra bungsu dari 6 bersaudara pasangan Muhammad Thaib (Alm) dan Kamariah (Alm). Dia memilki 4 kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan.

Orang tua Ishak, semasa hidupnya merupakan seorang Nelayan Sondong, Penyadap Karet dan Petani Sagu. Sejak kelas 5 Sekolah Dasar tahun 1976, Ishak sudah ditinggal ayahnya meninggal dunia.

Saat itu Muhammad Ishak, sudah ikut membantu Ibu nya menyadap karet, bahkan saat pulang dari menyadap karet, dia harus membawa kayu api pulang ke rumah, begitulah setiap pagi sebelum pergi ke sekolah dia harus membantu Encek (panggilan M. Ishak kepada Bapak nya-Red) untuk mengolah Sagu secara tradisional.

Jarang sekali Ishak dapat merasakan makan nasi. Kalau pun ada, itu hanya sedikit, sebab saat itu ekonomi keluarga sangat miris. Maka, perlu kerja keras untuk menikmati sesuap nasi bersama keluarga.

“Saat masih SD kami kebanyakan makan gubal, nasi sedikit saja, setelah Almarhum Bapak tidak mengolah Sagu lagi, Almarhum pindah sebagai Nelayan Sondong, sekali-kali saya juga bantu menjual udang dan ikan ke kampung-kampung,” kata Ishak.

Belum sampai disitu saja. Ishak bersama abang dan kakaknya juga membantu Mak (Sebutan untuk orang tua perempuan nya-red) setelah motong (menyadap) karet paginya, juga menambah kerja lain dengan mengambil daun sagu untuk di buat atap daun.

“Sampai SMP saya masih membantu Mak motong karet, karena Mak sudah mulai agak tua, Mak saya suruh berhenti memotong karet dan buat atap, berubah jualan baju dan pakaian kecil-kecilan,” ungkapnya.

Kegigihan Ishak bekerja membantu kedua orangtuanya mengantarkan dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Singkep pada tahun 1984.

Ishak kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan tinggi strata satu di Universitas Negeri Riau (UNRI) pada tahun 1990. Dan, dia melanjutkan dan menyelesaikan kembali pendidikan S2 Magister Management, Manajemen SDM UHAMKA 2002.

Sedari kecil sudah terbiasa bekerja keras untuk meraih kehidupan juga dilakukan Ishak semasa sedang kuliah di Fakultas Perikanan UNRI Pekanbaru, Riau.

Saat hari libur kuliah atau ketika Ishak pulang ke Dabo Singkep, Lingga dia tetap bersemangat setiap pagi membantu abangnya mengambil tangkapan ikan dari pelabuhan menggunakan sepeda untuk dijual ke penampung ikan.

“Saat ini abang dan kakak saya tinggal di Dabo Singkep, hanya saya sendiri yang tinggal di Daik Lingga,” ujarnya.

Ishak, seorang pekerja keras ini sangat mencintai keluarganya. Dia menikahi seorang wanita bernama Hj. Noni Setiawati, yang merupakan Guru Taman Kanak-kanak Pembina, di Daik, Lingga.

Keduanya dikaruniai 2 orang anak. Anak pertama mereka seorang laki-laki, Muhammad Iqrak Binthana, yang saat ini tengah menempuh Ujian Kompetensi Jurusan Kedokeran UNIBA Batam.

Sedangkan anak kedua seorang perempuan, bernama Aura Daili Augesty yang saat ini masih berumur 5 tahun.

Saat ini, Ishak dan keluarganya menetap di Daik Lingga, tepatnya di Jalam Istana Robat Daik, Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga.

Riwayat Pendidikan Ir.H. Muhammad Ishak, MM

  • SD Negeri 001 Daik, Tamat 1977.
  • SMPNegeri 1 Daik, Tamat 1981.
  • SMANegeri.1 Singkep, Tamat 1984.
  • S1Sarjana Perikanan di Fakultas Perikanan UNRI, Tamat 1990.
  • S2Magister Management, Manajemen SDM UHAMKA, Tamat 2002.

Dengan pengalaman 29 mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara ASN, tentu sosoknya sebagai birokrat tidak perlu diragukan lagi jika dirinya ingin memimpin Kabupaten Lingga, yang berjuluk Bunda Tanah Melayu ini, karena berbagai Pengalaman Jabatan yang telah diamanahkan kepadanya, seperti ;

  • Kepala Urusan Perencanaan Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Riau.
  • CamatLingga.
  • KepalaBagian Tata Usaha Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lingga.
  • KepalaDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lingga.
  • Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lingga, dan yang terahir menjabat sebagai.
  • Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga.

Berbagai Tanda Jasa/Penghargaan:

  • Piagam Tanda Kehormatan Presiden Ri, tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya X Tahun.
  • PiagamTanda Kehormatan Presiden RI, Tanda Kehormatan SatyalancanaKarya Satya XX Tahun.

Pendidikan Penjejangan:

  • Diklat ADUM di Pekanbaru, 1997
  • Diklat ADUMLA di Tanjungpinang, 2000
  • Diklat PIM III di Tanjungpiang, 2002
  • Diklat PIMII di Jakarta, 2009

Pendidikan Teknis:

  • Rencanaan Proyek Pembangunan Pertanian Dan Pedesaan Di Medan.
  • Pengelolaan Kawasan Pariwisata Secara Terpadu, Jogjakarta.
  • Pendidikan Pelatihan Kepimpinan Bagi Camat, Jakarta.
  • Pelaksanaan TOT Manajemen Agribisnis Wilayah Terpadu Tingkat Utama, Cisarua Bogor.
  • Pelatihan Manajemen Proyek Pembangunan Pertanian Terpadu, Jakarta.
  • Pelatihan Eksekutif Workshop Strategi Inmplemntasi Standar Akutansi Pemerintah Berbasis Akrual, Batam.

Pengalaman Organisasi:

  1. Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Lingga.
  2. Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Daik dan Sekitarnya (PS Daik dan Sekitarnya).
  3. Ketua Pengcab PODSI Kabupaten Lingga.
  4. Wakil Sekretaris Ikatan Keluarga Lingga (IKL) Tanjungpinang.

Pengabdian:

  1. Ikut Bersama Dalam Perjuangan Pembentukan Propinsi Kepri Dan Kabupaten Lingga.
  2. Bersama Pj Bupati Lingga Pertama, Camat Lingga Pertama Yang Berperan Penting Menyiapkan Daik Lingga Sebagai Ibukota Kabupaten Lingga.
  3. Saat Menjadi Camat Lingga, Menjadi Pengerak Utama Pembangunan Fasilitas Umunm Melalui Gotong Royong, Pembangunan Lapangan Bola Sultan Mahuud Riayat Syah, JI .Engku Aman Kelang, membuka Jalan menuju Dusun Mala, Jalan Baru Kampung Cina Dan Tugu Meriam Kampung Salak.
  4. Penggagas Pembangunan Moseum Linggam Cahaya (MLC) Di Daik Lingga.
  5. Pengusul dan Penggesa Pembangunan Pelabuhan Sungai Tenam Oleh Propinsi Riau yang Awalnya Dirancang Sebagai Pelabuhan Bongkar Muat Di Pulau Lingga.
  6. Penggagas Perlunya Mengabadikan Nama-Nama Para Sultan Lingga Riau, Yang Dipertuan Muda, Para Pembesar Kesultanan Lingga Riau, Situs Sejarah Dan Orang Orang yang Telah Bejasa Pada Penamaan Jalan Dan Fasilitas Umum Di Pulau Lingga.
  7. Penggagas Perlunya Pulau Benan, Penaah, Mepar Dan Resun Dijadikan Sebagai Desa Wisata Di Kabupaten Lingga.K
  8. Penggagas kegiatan Tahunan Pelestarian Budaya Melayu I Di Kabupaten Lingga: Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM).
  9. Penggagas Kegiatan Gerakan Sayang Benda Cagar Budaya (GSBCB) Dalam Rangka Untuk Pengumpulan Koleksi Moseum Linggam Cahaya.
  10. Pemerakarsa Dan Pelaksana Semiloka Nasional Di Reflika Istana Damnah, Daik yang Menetapkan Perlunya Pembangunan Pulau Benan Dan Sekitarnya Sebagai Kawasan Wisata Bahari.
  11. Penggagas Pembangunan Tugu Khatulistiwa Di Tanjung Teludas Desa Mentuda (Baru Dibuat Reflika).
  12. Pencetus awal perlunya Sultan Mahmud Riwayat Syah Diusulkan Sebagai Pahlawan Nasional.
  13. Penggagas Dan Pendiri Pembangunan Moseum Timah Singkep Di Dabo Singkep.
  14. Penggagas Perlunya Radio Di Lingga, Yang Diawali Dengan Lingga FM Dan Kemudian Berubah Menjadi Radio Bunda Tanah Melayu (RBTM).
  15. Saat Bertugas Di Bappeda, Menjadi Penggesa Utama Peyusunan Dokumen Perencanaan Yang Wajib Dimiliki Suatu Daerah Seperti RPIP, RPIMD Dan RTRW Kabupaten Lingga.
  16. Pengusul Perlunya Pembangunan Lapangan Udara Perintis Di Pulau Lingga (Spot Di RTRW Sekitar Daerah Linau) Untuk Menunjang Pembangunan Industri Pariwisata.
  17. Pencetus Perlunya Pembuatan Tracking Gunung Daik.
  18. Pembawa PerBankan Pertama (BRI) Di Kecamatan Lingga (Pulau Lingga).
  19. Penggagas dan Penggesa Pembangunan Balai Adat Melayu di Kabupaten Lingga.
  20. Sebagai Ketua Umum LAM Kepri Kabupaten Lingga, Menjadi Penggesa Utama Perlunya Pembentukan Pengurus LAM Yang Tidak Saja Di Tingkat Kecamatan Tetapi Juga Sampai Di Tingkat Kelurahan Dan Desa.
  21. Pencetus dan Penggesa Perlu Segeranya Kebudayaan Dan Sejarah Lokal Untuk Dimasukkn Ke Dalam Materi Muatan Lokal Untuk Diajarkan Di Sekolah Sekolah.
  22. Penanggung Jawab Dan Pemerakarsa Penulisan Buku Buku Sejarah Lokal Seperti Buku Sejarah Pembentukan Kabupaten Lingga Dan Para Sultan Lingga Riau, Serta Buku Buku Warisan Budaya Tak Benda Lokal, Seperti Adat Tepung Tawar, Kue Mueh Pengantin, Teater Bangsawan, Tradisi Lisan Brodat, Gasing Lingga, Panduan Tata Cara Penulisan Tulisan Arab Melayu, Berpakaian Patut Baju Kurung, Tudung Manto, dan Lain-lain.
  23. Penggerak dan Pagesa Percepatan Usulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Lingga, Menjadi WBTB lndonesia.
  24. Penggagas Perlunya Penyusunan Peraturan Daerah Tentang ;
  • Kepariwisataan di Kabupaten Lingga.
  • Pengelolaan Cagar Budaya.
  • Pemajuan Kebudayaan Bunda Tanah Melayu.

Demikian berbagai pengalaman Tanda Jasa/Penghargaan, Pendidikan Penjejangan, Pendidikan Teknis, Pengalaman Organisasi dan Pengabdian, sosok Ir. H. Muhammad Ishak, MM sampaikan.

“Barangkali mungkin dengan melihat rekam jejak saya selama di pemerintahan, memimpin organisasi dan pribadi saya, sehingga adanya dorongan dan harapan sebagian dari tokoh-tokoh, sahabat dan masyarakat agar saya dapat mengabdi dan dapat berbuat yang lebih baik lagi di daerah ini,” kata Ishak.

 

Pewarta : Puspandito/Aci

Editor : Aji Anugraha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *