Pemkab Lingga Gelar Pawai Budaya dan Mandi Safar

Sekda Lingga Juramadi Esram saat memandikan seorang anak dama tradisi kebudayaan Melayu, Mandi Safar, di Balai Adat Melayu Kabupaten Lingga, Rabu (23/10/2019). (Foto: aci)

PIJARKEPRI.COM, Lingga – Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) menggelar tradisi mandi Safar, di Balai Adat Melayu Kabupaten Lingga, Rabu (23/10/2019).

Mandi safar dari Kabupaten Lingga sudah ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2018 lalu. Terdapat beberapa tempat untuk masyarakat Daik Lingga melaksanakan mandi safar yakni, Lubuk Papan, Air Terjun Resun, Pantai Pasir Panjang, Pantai Mempanak, Pantai Dungun, Pantai Serim dan Pantai Impian.

Bupati Lingga, Alias Wello, diwakili Sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Lingga, Juramadi Esram dalam sambutannya mengatakan, tradisi Mandi Safar telah lama dilakukan setiap tahun oleh sebagaian besar masyarakat di Kabupaten Lingga.

Berdasarkan catatan sejarah Mandi Safar sudah dilaksanakan sejak pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah, sebelum dimakzulkan oleh Belanda.

Juramadi Esram menambahkan, Pemerintah Kabupaten Lingga terus berupaya dalam melestarikan kebudayaan Mandi Safar, dan berikhtiar untuk mengemas kegiatan tersebut dari tahun ke tahun.

“Ketika informasinya beliau dimakzulkan oleh pihak Belanda, Sultan tidak pulang lagi ke Penyengat, beliau langsung pergi ke Singapura dan itu merupakan Mandi Safar yang terakhir Sultan Abdurrahman Muazzam Syah,” kata Juramadi Esram di Balai LAM Daik Lingga, Rabu (23/10/2019).

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak mengatakan, mandi Safar merupakan salah satu warisan yang ditinggalkan dari masa kerajaan dahulu, mulai dari Kerajaan Riau-Johor-Lingga-Pahang, termasuk juga Kerajaan Riau-Lingga.

Ishak menjelaskan, dari catatan sejarah yang Lingga miliki, bahwa meskipun Sultan Lingga yang terakhir, Sultan Abdurrahman Muazzam Syah tahun 1883-1911, yang mangkat di Singapura, pindah dari Lingga ke Penyengat, namun setiap tahun nya pulang ke Lingga untuk Mandi Safar.

“Karena ini sudah menjadi warisan, tetap dilakukan masyarakat dari tahun ke tahun, tentu ini harus kita lestarikan,” ujarnya.

Ia menuturkan, Pemerintah Kabupaten Lingga bersama Provinsi Kepri, telah mengusulkan mandi Safar ke pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Alhamdulillah, pada tahun 2018 lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah ditetapkan Mandi Safar sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia,” ucap M Ishak kepada awak media, usai kegiatan mandi Safar di Balai LAM Daik Lingga.

Mandi Sapar, lanjut Ishak, mengandung filosofi dan makna yang religius, berupa doa dan harapan kepada Tuhan YME, agar dijauhkan dari segala bahaya, malapetaka, dan bencana, selain itu, untuk mempererat tali silaturahmi antara masyarakat. Kebudayaan ini dinilai sangat penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan dan kebersamaan.

“Seperti yang kita ketahui, mandi Safar selain dilakukan di sumur di masing-masing rumah, juga banyak dilakukan di tempat-tempat lain, seperti sungai dan pantai yang tentunya agar kita dapat mencintai alam serta menjaga kelestariannya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Pengembangan Sosial Budaya LAM Kabupaten Lingga, Lazuardy menuturkan, sebelum pelaksanaan kegiatan mandi Safar, juga dilaksanakan beberapa kegiatan pendukung, seperti pawai budaya dan doa selamat untuk menghantar anak-anak yang melaksanakan mandi Safar.

Anak-anak mandi Safar yang digelar di Balai LAM Lingga merupakan kegiatan simbolis, setelah itu masyarakat yang memang sudah melaksanakan mengadakan mandi Safar, akan melaksanakan di tempatnya masing-masing.

Ia mengatakan, jika di daerah penduduk tinggal dekat dengan sungai, mereka akan melaksanakannya di sungai, begitu juga yang bertempat tinggal di daerah pantai mereka akan mandi Safar di laut, usai mandi di laut baru mereka mandi lagi dengan air yang telah di doa kan.

“Kegiatan mandi Safar ini telah dilakukan sejak kerajaan Lingga Riau, adapun makna dari mandi Safar ini, adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah, untuk pembersihan rohani dan jasmani, dan bentuk perlindungan agar terhindar dari segala bentuk mara bahaya, karena dalam satu tahun 12 bulan semua ada mengandung bahaya, hanya pada bulan Safar masyarakat kampung selalu menyebutnya Naas Safar, maka dilaksanakanlah kegiatan mandi Safar ini, untuk menolak bala dan mara bahaya,” imbuhnya.

Pantaun Pijarkepri.com dilapangan, masyarakat cukup antusias dalam mengikuti kegiatan mandi Safar yang dilaksanakan di Balai LAM Lingga ini, tidak saja hanya dihadiri masyarakat tempatan, namun warga Singapore juga ikut serta dalam kegiatan mandi Safar ini. (ACI)

Share

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top