Perjuangan Anak Kepala Jeri Menyeberangi Laut Mencari Pendidikan

Anak Pulau Kelapa Jeri, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam saat berangkat menuju sekolah dengan kapal, di pinggir pantai. Ini sudah menjadi rutinitas mereka. (f-ZFK/pijarkepri.com)
Anak Pulau Kelapa Jeri, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam saat berangkat menuju sekolah dengan kapal, di pinggir pantai. Ini sudah menjadi rutinitas mereka. (f-ZFK/pijarkepri.com)
Anak Pulau Kelapa Jeri, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam saat berangkat menuju sekolah dengan kapal, di pinggir pantai. Ini sudah menjadi rutinitas mereka. (f-ZFK/pijarkepri.com)
Anak Pulau Kepala Jeri, Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam saat berangkat menuju sekolah dengan kapal, di pinggir pantai. Ini sudah menjadi rutinitas mereka. (f-ZFK/pijarkepri.com)

MASIH terhirup pekat aroma lumpur pinggir pantai dermaga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang di dalam ruang kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Batam, tempat Monalisa (13) menempuh pendidikan.

Aroma lumpur itu tak asing bagi Rika dan Rina, sahabat karib Monalisa, yang biasa bersama menapakkan kakinya di lumpur tempat perhentian kapal kayu, sebuah kapal yang mereka naiki dari Pulau Kepala Jeri Kelurahan Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam.

Bacaan Lainnya

Dari aroma lumpur itu, Monalisa bercerita bagaimana dia dapat sampai ke sekolah dan tak sedikitpun lumpur menempel di pori-pori kakinya. Karena sudah tentu, jika dia dan 25 siswa lainnya, yang juga berasal dari Pulau Kepala Jeri tak mengggunakan sepatu, berlumpur, tentu tak dibenarkan masuk ke kelas untuk mendapatkan pendidikan.

“Saya dan teman-teman baru pulang sekolah, sekarang mau pulang ke rumah, kami tinggal di Pulau Kepala JeriĀ  jauh disana,” katanya saat ditemui pijarkepri.com, sore itu, tepat di pinggir dermaga Pulau Kasu, Batam.

Dari atas kapal kayu milik Bidin (40), kaki para bocah itu mulai turun ke tepian kapal, tak segan air laut pun membersihkan lumuran lumpur yang melekat di kaki mereka.

Sembari tertawa, wajah polos para bakal calon pemimpin bangsa itu asik bercerita tentang pelajaran apa yang mereka terima tadi di sekolah dan mengatur waktu agar besok tak bangun telat ke sekolah.

Butuh waktu 50 menit dari Pulau Kepala Jeri untuk sampai ke dermaga Pulau Kasu, setelah itu mereka harus menempuh jarak 2 kilometer agar sampai ke sekolah, SMP N7 belakang padang. (f-ZFK/pijarkepri.com)

Ya, mereka tak dibenarkan telat tiba disekolah, maka sudah tentu mereka harus bangun sepagi mungkin, demi sekolah di SMP Negri 7 Batam, sebab di Pulau Kepala Jeri tak ada sekolah lanjutan tingkat pertama.

Butuh waktu lebih kurang 50 menit untuk sampai Pulau Kelapa Jeri dari dermaga Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Batam. Tak sampai disitu, untuk sampai ke rumah, mereka harus melewati semak belukar agar tiba tepat waktu.

Ini yang menjadi rutinitas seorang anak Pulau Kepala Jeri yang bercita-cita menjadi seorang dokter.

“Ini dia lakukan, hanya demi menggapai cita-cita nya yang ingin menjadi seorang dokter,” kata abang kandungnya, Zulfikar, saat ditemui pijarkepri.com

Monalisa merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang buruh bangunan, sementara ibunya sudah wafat 5 tahun lalu.

Minimnya ekonomi keluarga juga diutarakannya, sebab tak hanya dia yang tengah bersekolah, kakaknya juga sedang menempuh pendidikan di Universitas Maritim Raja Ali Haji, sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Tanjungpinang.

Anak-anak Pulau Kepala Jeri saat menaiki kapal kayu Pak Bidin (40). Sebulan mereka bayar Rp400 ribu untuk transportasi antar jemput sekolah ke Bidin. (f-ZFK/pijarkepri.com)

Pagi pun tiba, sama seperti hari-hari yang lalu, sebelum fajar terbit, Monalisa dan para sahabatnya sudah mulai bergegas menuju ke sekolah, melewatj semak belukar, menaiki kapal Bidin, menerjang ombak, menginjak lumpur dermaga Pulau Kasu, hingga sampailah dia di ruang kelas satu SMP Negeri 7, Belakang Padang.

Tak menjadi soal penting bagi Monalisa melewati proses jarak tempuh waktu, lama, jauh untuk dapat sampai ke sekolah, yang terpenting baginya dapat sekolah dan meraih cita-cita, meskipun terkadang dia sedih mengingat ekonomi keluarga yang tak mencukupi untuk membiayai dirinya sekolah.

Pulau Kepala Jeri tak memiliki SMP dan SMA, yang ada hanya sekolah SD. Itu pun berstatus lokal jauh SD 6 Pulau Kasu. Untuk menaiki kapal yang biasa digunakan siswa bersekolah, orang tua harus merogoh kocek Rp400.000 per bulannya.

Dengan biaya yang cukup tinggi seperti itu terkadang dia haru, karena melihat ekonomi orang tua yang kurang memadai. Ayahnya juga membiayai abangnya yang saat ini berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Tanjungpinang.

Ada harapan kecil di mata para pejuang anak pulau ketika menyeberangi laut mencari pendidikan, yakni berharap agar pemerintah dapat memberikan fasilitas yang bisa memudahkan mereka menempuh pendidikan dan menggapai cita-cita, sebab Pulau Kepala Jeri merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kami cinta negeri ini, kami sayang negeri ini, Indonesia,” ungkapnya.

ZFK
Editor : Aji Anugraha

Pos terkait