Tanjak Syahrial Merajut Silaturahmi dari Pulau ke Pulau

Penduduk Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat, Lingga saat menyambut kedatangan M Syahrial ke Lingga, Rabu (18/12). (f-ARS)
Penduduk Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat, Lingga saat menyambut kedatangan M Syahrial ke Lingga, Rabu (18/12). (f-ARS)

BERTANJAK adalah ciri khas dari Muhammad Syahrial, anak asli daerah Kepulauan Riau yang memiliki keinginan besar untuk menasionalisasikan Tanjak, sebutan pengikat kepala bangsa Melayu ke seluruh penjuru negeri.

Tak muluk-muluk ke seluruh daerah di Indonesia, pria yang akrab dipanggil Bang Yai ini mulai membiasakan bertanjak ke seluruah daerah di Provinsi Kepulauan Riau yang dia singgahi. Hingga sampailah dia di Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat, salah satu desa di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Bacaan Lainnya

Kata Bang Yai, tanjak dapat merajut tali silaturahmi antara masyarakat, dari hati ke hati. Tanjak pula memaknai simbol kebesaran bangsa Melayu. Untuk itu, Yai berinisiasi untuk memperkuat keberagaman, menyatukan harapan dan keinginan untuk membangun Kepri lebih baik.

“Tanjak adalah simbol kebesaran bangsa Melayu, masyarakat Kepulauan Riau. Kita menjujung tinggi adat istiadat Melayu, dimana bumi di pijak di situ langit di junjung, jadi, tidak ada salahnya untuk melestarikan tanjak,” kata Syahrial saat bersilaturhami dengan penduduk Desa Tinjul, Selasa (18/12).

Bagi Yai, Desa Tinjul adalah salah satu alasan agar Kepulauan Riau memiliki harapan besar untuk bangkit, lebih maju di tahun-tahun yang akan datang, seperti pemaknaan tanjak menganjur ke atas, atau mengalami peningkatan, baik dari perekonomian, pendidikan dan pembangunan.

“Desa Tinjul dan desa-desa lain di Kepulauan Riau perlu akses penghubung antara pusat dan daerah, kabupaten dan provinsi dari para perwakilan di Kepulauan Riau,” ungkapnya.

Menggambarkan Desa Tinjul tak sama seperti daerah lainnya di Indonesia, Desa Tinjul terletak di antara 10 desa di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Butuh waktu 1 jam perjalanan dari Pelabuhan Umum di Desa Jagoh untum sampai ke Desa Tinjul.

Pemerintah setempat baru saja membuka akses jalan menuju Desa Tinjul, tapi belum untuk menghubungkan antara Desa Tinjul ke Desa Kuala Raya, Marok Tua, Sungai Buluh, Sungai Raya, Sungai Harapan, Langkap, Tanjung Irat, Bukit Belah. Kondisi jalan penghubung antardesa hanya dapat dilalui dengan jalan setapak.

Bang Yai mengungkapkan mirisnya kondisi pembangunan infrastuktur penting, seperti jalan sangat dibutuhkan di Lingga, mengingat jalan adalah sarana penting untuk menyambung pita pembangunan dari desa ke desa di Lingga.

“Insyaallah jika dipercayakan saya sebagai Perwakilan Daerah Kepri di pusat, saya akan berusaha untuk mensinergikan antara keinginan daerah dan pusat, seperti jalan ini, sudah seharusnya diperjuangkan,” kata Yai sesaat disambut penduduk Desa Tinjul, ‘pelawe’ dalam penyebutan kebiasaan menyambut tamu.

Kecamatan Singkep Barat dihuni lebih kurang 1000 penduduk, rata-rata bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani. Hamparan luas daratan yang subur dan hasi perikanan tak sama dengan kemajuan di sektor pendidikan dan pembangunan infrastruktur.

Zaimi (60), salah satu penduduk Desa Tinjul mengutarakan, bagaimana para siswa yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus menempuh waktu 1 jam ke sekolahnya yang berada di Desa Kuala Raya, dan hanya ada 1 bus yang mengantar jemput para siswa itu.

“Disini cuma ada 1 SD, untuk SMP anak-anak harus ke Desa Kuala Raya, kami berharap ada sekolah disini, kalau pun tidak, bus ditambah,” ungkapnya.

Pria Bertanjak itu pun tak segan menampung semua aspirasi penduduk Desa Tinjul. Tak jarang pula dia menyampaikan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan di Kabupaten Lingga. Menurutnya, potensi besar yang dapat dibangun di kabupaten dengan sebutan “Bunda Tanah Melayu” perlu diperjuangkan.

Ia mengatakan, Lingga merupakan daerah sentra perikanan, khususnya kemaritiman dan pertanian. Dahulu, Lingga juga merupakan daerah pertambangan yang saat ini daerah pasca tambang, banyak masyarakat yang menitikberatkan perekonomian dari sektor tambang.

Akan tetapi, perubahanan dari daerah pertambangan ke pasca tambang tak begitu dapat diperhatikan pemerintah pusat dan daerah.

“Potensi-potensi inilah yang harus terus dikembangkan pemerintah daerah dan pusat, DPRD dengan DPR RI, bagaimana dapat bersinergi, agar pembangunan di desa-desa dapat berjalan dengan semestinya, sehingga lapangan pekerjaan tercipta, perekonomian dapat berjalan,” ucap Sayhrial dihadapan Tokoh Masyarakat Desa Tinjul.

Terlihat begitu dekat masyarakat Desa Tinjul mengenal Syahrial, dia berjanji tak akan sekali mendatangi desa-desa di Lingga, begitu pula dengan desa-desa lainnya yang ada di Kepulauan Riau, sebagai makna merajut silaturahmi dari pulau ke pulau.

“Ingat Syahrial ingat tanjaknya,” kata Yai, sumringah.

Saat ini Muhammad Syahrial tengah maju sebagai salah satu Calon Anggota Legislatif pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) daerah pemilihan Kepulauan Riau, pada Pemilu serentak 2019.

ARS

Editor : Aji Anugraha

Pos terkait