Tujuh Kisah Perbedaan Pendidikan di Kepulauan Riau

Seorang guru tengah medikti siswa membaca di salah satu SD di Kabupaten Kepulauan Anambas. (Foto: aji anugraha/doc.pijarkepri.com)

Seorang guru tengah medikti siswa membaca di salah satu SD di Kabupaten Kepulauan Anambas. (Foto: aji anugraha/doc.pijarkepri.com)

KEPULAUAN Riau merupakan salah satu Provinsi yang ada di Indonesia yang termasuk salah satu daerah kepulauan yang memiliki pulau-pulau terdepan. Lebih kurang 22 pulau berbatasan langsung dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Provinsi Kepulauan Riau terdiri atas 5 kabupaten dan 2 kota, meliputi Kabupaten Natuna, Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan, Kabupaten Anambas, Kota Tanjungpinang dan Kota Batam.

Dari ke-7 kabupaten kota ini, penulis menghimpun, mengamati dan menyimpulkan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sangat terasa berbeda sekali dari masing-masing kabupaten kotanya, padahal negara sudah menjanjikan akan kesejahteraan dan kemakmuran kepada seluruh rakyatnya tanpa terkecuali.

Untuk itu pendidikan adalah jalan terbaik dalam meningkatkan kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang merata. Menurut hemat penulis, tingkat kesejahteraan dan kemakmuran dapat ditingkatkan jika masyarakat mempunyai ilmu dan pendidikan yang layak.

Untuk itu dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana potret pendidikan penduduk di seluruh kabupaten dan kota di Kepulauan Riau yang dibungkus dalam kisah berbeda dari setiao daerah-daerah yang ada.

Kisah pertama dan kedua dimulai dari Tanjungpinang dan Batam, dua kota yang berada di Kepulauan Riau. Karena letaknya yang strategis dan berada di pusat kota, sektor pendidikan di dua kota ini sudah lebih maju dari lima kabupaten lainnya.

Pendidikan di Kota Tanjungpinang dan Kota Batam sudah lumayan baik, mulai dari kemajuan di sektor infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini dapat dilihat dari jenjang sekolah yang lengkap, fasilitas dan pembangunan, serta pemikiran masyarakat yang sudah tahu pentingnya pendidikan.

Batam dan Tanjungpinang seperti oasis bagi masyarakat Kepri. Namun, kisah selanjutnya tak seindah kisah pertama dan kedua, empat kabupaten lainnya tidak bisa merasakaan apa yang dirasakan oleh warga Batam dan Tanjungpinang, padahal masih sama-sama dibawah pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau.

Salah satunya Kabupaten Kepulauan Anambas. Sebagian anak di daerah Anambas masih belum mendapatkan pendidikan. Banyak anak usia sekolah di Kecamatan Siantan Timur salah satu kecamatan di Anambas yang harus gigit jari ketika tiba saatnya melanjutkan sekolah ke tingkat jenjang yang lebih tinggi, semisal SMA.

Kenapa mereka gigit jari ?, pasalnya karena keterbatasan transportasi antar pulau, mengingat jarak antara daerah satu dan lainnya harus menyebrang ke desa tetangga dengan menggunakan transportasi berupa pompong.

Parahnya lagi, jika cuaca tidak mendukung, semisal masuknya musim angin kuat disertai ombak, maka aktivitas belajar mengajar tidak dapat berlangsung.

Untuk tenaga pengajar didaerah ini banyak menggunakan tenaga ajar dari luar, dan hanya sebagian yang berasal dari daerah tersebut.

Untuk tenaga ajar yang berasal dari dalam daerah biasa berasal dari luar daerah. Selain itu anak-anak yang berada di pelosok pulau seperti Air Sena, Candid dan Air Putih sangat sulit untuk menjangkau SMA karena letak yang jauh dan kondisi jalan yang sangat buruk, sehingga banyak anak-anak yang enggan untuk sekolah.

Pola pikir masyarakat mengenai pendidikan juga masih sangat rendah dan menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting. Mereka menganggap bahwa jika sudah tamat SMP atau SMA itu langsung saja bekerja tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi lainnya.

Potret serupa juga terjadi didaerah seperti Natuna, Karimun, Lingga, dan Bintan. Kondisi pendidikan didaerah itu juga masih sangat memprihatinkan dan butuh uluran.

Banyak pendidikan terutama SMA harus dijangkau dengan transportasi laut, yang mana kita tahu transportasi laut ini bergantung dengan cuaca.

Bangunan sekolahnya yang masih kurang sehingga ada kasus dimana kurangnya kelas yang membuat satu kelas itu harus banyak menampung siswa didalamnya dan tidak ideal untuk proses belajar mengajar.

Minat belajar di tiga kabupaten ini atau minat membaca siswanya masih kurang atau rendah. Di didaerah terpencil, seperti pulau-pulau internet sangat susah di askes.

Jika kita membandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada diperkotaan seperti Tanjungpinang dan Batam mungkin kita dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok antara daerah diperkotaan dan di pedesaan.

Di daerah perkotaan sudah memiliki sarana dan prasarana yang memadai, siswa dan guru selalu dimanjakan oleh fasilitas yang sudah lengkap dengan teknologi yang canggih. Segala proses pembelajaran dilakukan dengan baik dan nyaman sehingga bisa menghasilkan siswa yang berkualitas.

Namun, didaerah perbatasan seperti Anambas, Lingga, Karimun, Natuna dan Bintan keadaannya berbanding terbalik, fasilitas di sana sangat memprihatinkan. Sarana dan prasarana belajar mengajar masih kurang.

Tentu banyak hal yang harus ditingkatkan agar daerah yang terpencil bisa menjadi maju seperti daerah terdepan yang ada diperkotaan.

Dari kisah diatas kita sudah bisa menggambil gambaran tentang keadaan pendidikan di Indonesia. Kepri adalah bagian kecil dari Indonesia, dan keadaannya masih sangat memprihatinkan, padahal pada tahun 2017, bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kepri sudah mengalokasikan 26 persen anggaran untuk sektor pendidikan.

Dimana prioritas dana tersebut untuk melanjutkan kegiatan yang tertunda ditahun sebelumnya yang salah satunya pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Namun, jika terlalu lama membenahi sektor pendidikan tersebut, mungkin pendidkan formal di Kepuluan Riau terutama di daerah perbatasan tak begitu diinginkan lagi.

Sementara menurut Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Pendidikan dan kesejahteraan adalah hal yang dijanjikan negara”.

Mungkin bagi anak desa yang berada di daerah perbatasaan ini merupakan suatu hal yang istimewa yang tak semua anak perbatasaan dan desa bisa rasakan.

Indonesia akan tetap menjadi Indonesia yang sekarang jika generasi-generasinya masih buta akan pendidikan. Indonesia tidak akan bangkit jika generasi-generasinya masih belum punya ilmu dan keahlian. Najwa Shihab pernah berkata, “Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bisa bertahan.”

Penulis : Ferdi Enrizal, Putri Rioni Rahmi, Surmiyahti, Wilda Sari.

(Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang)

Diterbitkan : media online pijarkepri.com

Share

PinIt

One thought on “Tujuh Kisah Perbedaan Pendidikan di Kepulauan Riau”

  1. Anna berkata:

    Terimakasih artikelnya min, sangat bermanfaat.
    Seandainya pemerintah lebih memperhatikan daerah terpencil, sehingga guru yang sedang mengabdi tidak memikirkan hal lain selain mengajarkan ilmu kepada muridnya, maka kebodohan (sumber segala kejelekan) akan bisa berkurang di Negara ini. kira2 dimana memperoleh info ter update ttg lowongan mengajar di daerah terpencil di Kepulauan Riau?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top